Tampilkan postingan dengan label Inside My Mind. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inside My Mind. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Januari 2012

Just nothing



  • Tidak ada orang yang tak sibuk memikirkan dirinya sendiri. Memangnya ada yang tidak ? Luangkanlah sedikit waktu untuk yang lain, biar kamu tidak stress.

  • Tidak ada orang yang tak pernah bohong.  Ada yang menyangkal ? Ayolah, jangan mulai lagi. Setidaknya jangan lakukan pada dirimu sendiri.   

  • Tidak ada orang yang merasa dirinya salah. Mungkin kita cuma perlu mencoba hal baru.

  • Tidak ada orang yang tidak memikirkan uang. Entah materialistis, Entah realistis, Entah oportunis, Entah kenapa ? Ngomong – ngomong, berapa harganya kebahagiaan ?

  • Tidak ada orang yang tak punya masalah. Bagaimana tidak ? Jangan – jangan itu hanya perasaanmu saja.  Dasar biang onar !

  • Tidak ada orang yang berfikir bahwa hidupnya bahagia. Siapa bilang hidup itu bukan penderitaan ? Memangnya, seberapa lama biasanya kau merasa bahagia ?

  • Tidak ada orang yang tidak ingin tampil. Begitu juga yang ingin tampil dibelakang layar. Mungkin berakting adalah pekerjaan sampingan kita semua.

  • Tidak ada orang yang merasa dirinya bukan yang paling special. Terimalah kenyataan dan janganlah berhenti berharap. Jangan naif !

  • Tidak ada orang yang tak menyangka dirinya bukan superior. Siapa sangka ? Suatu saat nanti, akan ku keluarakan kekuatanku yang sebenarnya. Taadaaa !!!! Tidak terjadi apa – apa.




  • Tidak ada orang yang mengatakan apa yang dipikiranya, mereka hanya  melihat orang lain tak lebih berpengalaman dalam hidup. Maaf jika saya terlalu sering mengatakan apa yang kupikiran.

  • Tidak ada orang yang tak ingin didengar. Kuharap kau bukan orang yang membosankan. 

  • Tidak ada orang yang mendengar apa yang tidak ingin mereka dengar. Setidaknya dengarkan suara hatimu.

  • Semua Orang terlalu banyak bicara. Sssstt…!!! Diam itu emas

  • Semua orang menunjukan apa yang paling dibanggakanya. Entah bekas lukanya, entah kejayaan masa silamnya, entah apa yang ingin dibuktikanya.

  • Semua orang tak tahan pujian. Kurasa kau juga tak tahan jika tindakan  bodohmu mendapat pujian. Waspadalah dengan pujian !

  • Semua orang mencoba membuktikan sesuatu. Apakah sebuah keyakinan butuh pembuktian ? Jika tidak, bagaimana bisa kita memulai hal baru.

  • Semua orang terkadang merasa kesepian. Adakalanya kita harus sendiri bukan ? Kita lahir sendirian, kita hidup sendirian, kita mati sendirian.

  • Semua orang mengejar keinginannya. Bagaimana jika yang kau butuhkan bukanlah yang kau inginkan ? Jadi, marilah kita berjuang demi makna. Cukup dengan berbuat sesuatu, bukannya sekedar mendapat apa yang kita inginkan.

  • " Semua orang membutuhkan seseorang. “ Benarkah ? Ini cuma kalimat indah yang kuambil dari internet. Tapi yang jelas, aku masih belum bisa berkomentar lebih jauh.
 
  • Semua orang jatuh cinta? Selain psychopath sepertinya orang bertampang pas - pasan yang narsis bakal kesulitan menjawabnya.

  •  Siapakah kita ? Bagaimana seandainya jika memang kita bukanlah siapa – siapa ?

Jumat, 13 Januari 2012

Perfect insanity

 “In a mad world, only the mad are sane ”
 -Akira Kurosawa,1910 -1998

 

       Bak menjadi makhluk asing di planet sendiri. Bukanya ku merasa aman, malah terancam. Abnormal dalam batas tak wajar. Mungkin ini karena manusia sudah kelewat kurang ajar. Manusia tak lagi sungkan - sungkan mengexploitasi sana – sini demi kepentingan pribadi. Melubangi atap rumah sendiri dengan aktif berkontribusi polusi. Dan berdalih demi sumber energi. Sayangnya mereka masih saja tak kunjung sadar oleh ulah sendiri. Walau telah di-ingat-kan berulang kali. Terlebih ulahnya memberi ancaman berarti terhadap keberlangsungan existensi. Mereka tak lebih hanya semakin menyakiti diri sendiri. Jadi jangan salahkan bumi atas segala yang terjadi. Tak hayal bencana alam bak kontrol populasi. Salah – salah hanya sekedar menghirup udara terlalu dalam, karbon monoxide siap menghunus paru – paru. Bernafas pun juga perlu berhati – hati. Jadi, kenapa harus menutup hidung jika bau kentut? Setidaknya sensasinya tak begitu mematikan. 

         Langit tak lagi jadi payung bumi dari sengatan sang mentari. Sungguh ironis jika memang butuh baju anti radiasi untuk hidup di planet sendiri. Bumi tak lagi layak untuk mereka tinggali. Atau merekalah yang tak lagi layak berada di bumi ? Sepertinya bumi sedang depressi. Tak hayal bumi menjadi semakin labil. Tiba – tiba terik, tiba – tiba badai, tiba – tiba panas , tiba – tiba dingin. Andaikan aku sebuah gelas, bagaimana aku tak retak. Begitu pula dengan semua orang yang mendekam didalamnya. Sepertinya otak dan hati mereka juga pada retak.

Bak menjadi makhluk asing di antara species sendiri. Kalau pun keadaan bumi sudah cukup mencekam, tata masyarakat pun tak kalah seram. Serasa dikelilingi para predator kanibal yang siap memangsa species sendiri. Keadaan ini cukup relevan menurutku. Mengingat kita (manusia) tak lagi makan untuk bertahan hidup. Melainkan demi pemuasan libido. Aku jadi teringat fenomena tentang kucing rumahan yang takut dengan tikus. Seekor binatang yang kehilangan insting sebagai naluri alamiahnya. Sedikit berbeda dengan itu, manusia juga kehilangan martabat dan nurani sebagai identitas manusianya. Singa menerkam manusia untuk dimakan. Tapi manusia membunuh singa hanya untuk sekedar iseng. Lebih dari itu, sering kali mereka iseng terhadap sesama manusia. Aku jadi tahu kenapa manusia dan binatang dalam taksonomi diklasifikasikan dalam satu kingdom. Tapi entahlah, aku lebih merasa ini hanya sebuah trend.


Peradaban kian biadab. Di Cina, mayat terlantar dianggap barang biasa. Mungkin disana para sociopath bertebaran dimana – mana. Di Palestine, wanita dan anak – anak dibantai adalah barang biasa. Dari afrika hingga papua kelaparan melanda. Sedang nan jauh disana. Negara maju pesta pora. Tapi yang jelas dimana – mana uang adalah prioritas utama. Tidak ada yang mau berbagi. Tidak ada yang mau saling peduli. Terlebih lagi sekedar toleransi. Apalagi kontribusi. Batasan telah hilang kemana. Sebuah rentetan peristiwa dan fenomena gila. Dunia macam apa ini ? Dimanakah ku berada saat ini ? ada apa di balik semua ini ? Mungkin hanya aku yang terlalu munafik untuk menerima manusia apa adanya.

Tapi apapun itu, sampailah kita dalam era tanpa inti. Era tanpa batas. Era gila. Jadi, terapi apa yang sekiranya cocok untuk orang gila? Freud mengaku pernah menyembuhkan orang gila lewat mengkaji mimpi – mimpinya. Sayangnya ia hanya berhasil membuat si gila tampak tak gila. Karena pada hakekatnya, ia masih orang gila sepenuhnya. Jadi jika freud tak pernah gila, bagaimana dia bisa tahu bahwa pasienya benar - benar orang gila? Aku jadi bingung, siapa yang gila sebenarnya ? Tapi aku juga tak pernah mendapati ada orang gila menerapi sesama orang gila. Bisa jadi freud adalah yang pertama. Kurasa kesalahan terbesar freud hanyalah karena ia berurusan dengan orang gila. Atau dia hanya sekedar mencoba melogikakan fenomena metafisik. Sebuah tindakan gila sebagai perwujudan ide gila. Agaknya dia terlalu memaksa, kasihan dia. Begitu juga dengan pendahulu dan teman seperjuangannya. Entah apa yang jadi motivasinya. Kenapa mereka sebegitunya dalam mematerikan barang kasat mata. Dasar gila !

Hikmahnya, kurasa masih belum ada obat untuk si gila. Mengingat ini adalah era gila, kurasa orang gila cukup dikultuskan saat ini. Sebuah kasus kriminal bakal resmi ditutup jika sang kriminal diidentifikasi sebagai orang gila oleh para kriminolog. Kini banyak orang gila yang memiliki karir cemerlang. Banyak orang gila yang menjadi idola saat ini. Gawatnya mereka lah yang dianggap normal di zaman ini. Tak heran jika tindakan amoral dianggap barang wajar. Tak khayal jikalau menolong sesama dianggap tak wajar. Tak pelik jika bertindak jujur dianggap abnormal. Tetapi seandainya boleh memilih, aku lebih memilih dianggap gila di era yang gila ini. Dan tendensiku sebagai orang gila, tak lebih hanyalah mengajak mereka yang normal menempatkan kembali segala sesuatunya sesuai pada tempatnya. Mungkin aku sudah gila?

Minggu, 12 September 2010

Arbiter dan A priori


  • Semua akan baik – baik saja ketika ada yang saling memahami. Manusia mana yang tidak narsis dan tidak bertopeng ? Jadi, siapa yang lebih memahami diri kita selain diri kita sendiri ? Apakah empati itu ?


  • Terkadang manusia tidak percaya atas apa – apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya sendiri ? Jadi kenapa ada orang yang percaya terhadap sesuatu di luar dirinya ? Jadi, apa yang harus kita percaya-i? Kenapa kita harus percaya ?


  • Fakta adalah segala hal yang menutup kemungkinan lainnya. Jadi bagaimana ketika sebuah ke-tidakmungkin-an menjadi fakta ? Apakah mustahil itu ?


  • Harapan akan kebahagiaan. Harapan akan dunia yang lebih baik. Harapan akan afterlife. Jadi, apa yang tidak kita harapkan ? Siapa yang berharap untuk dilahirkan kedunia ? Kenapa kita terus berharap ?


  • Orang bodoh adalah orang yang tak tahu apa - apa. Orang pintar adalah orang yang lebih banyak tahu. Jadi, apa yang orang bodoh lebih tahu dari orang pintar ? Sejak kapan ada orang pintar tanpa ada orang bodoh ? Pertanyaan bodoh


  • Berbohong itu adalah dosa. Ada yang tahu asal - muasal kebohongan tentang manusia yang tidak boleh berdosa ? Jawab dengan jujur


  • Ahli hukum dan kriminal selalu mencari-cari celah dalam aturan. Jadi kenapa tak membuat hukum yang melarang mencari celah ? Begitu pula hukum mengenai konsesi
    hukum. Jadi, kenapa ada hukum ?


  • Kapankah kita merasa iba ? Apa benar orang tak kenal belas kasihan juga tak kenal membantu sesamanya karena dirasa perlu ? Jadi, apa hubungannya rasa iba dan saling berbagi ? Kenapa mesti harus iba ?


  • Budaya rapi ala yunani, ternyata masih banyak yang termakan trend mode retro rasional antromorphis cosmos. Apakah deklarasi kemerdekaan kita tidak mencakup kemerdekaan berpenampilan ?


  • Coba pikirkan hal yang tak terpikirkan olehmu ! Masih percaya ada orang bodoh ?


  • Mengapa kita merasa takut pada ketidakjelasan ? Jadi, buat apa hidup ? kenapa mesti takut, lagian apa juga yang jelas ?



  • Grand design cerdas orisinil tanpa pengaruh apapun. Tahan sebentar, akan kukirim T-m@il (Transendental mail) kepada – NYA.


  • Kenapa kita harus memberi sedangkan kita sendiri masih butuh ? Kebutuhan apa yang tidak untuk memberi ?


  • Perkataan yang menyakitkan perasaan. Sejak kapan perkataan itu untuk dirasakan bukan untuk didengarkan ? Mungkin hanya terjadi dislokasi fisiologi atau mungkin mereka hanya terlalu melodramatis.


  • Semakin berumur, seseorang menjadi semakin realistis. Tapi tak jarang dari mereka yang memeriksakan penyakitnya pada aktor pemeran film dokter. Begitupula dengan meniru adegan dan gestur dalam film tersebut. Betapa realistisnya !


  • Ada yang tahu bagaimana kiranya seorang nihilis itu ? Cuma Nietzsche yang berhak menjawabnya menurut Derrida.


  • Akhir yang indah bukanlah pelajaran yang berarti. Apa yang lebih nyata dari pada kenyataan yang pahit ? Jadi apa itu indah ? ternyata keindahan menyesatkan !


  • Sekarang, Uang dan modal telah menjelma menjadi ID. Kemana perginya orang – orang yang sibuk melanjutkan hidup dan berkontribusi, yang tak bisa dibeli itu ? Ternyata harga diri manusia mengalami devaluasi. Tak khayal zionis menjadi berjaya !


  • Para pakar dan ahli sekarang seakan bisa tahu apa yang belum diketahuinya. Tak pelik jika ahli agama berlagak seolah tuhan. Dan mereka menjadi maha sok tahu !


  • Culture hypnosis, itu termasuk sepuluh besar jargon favoritku selain nothing. Terjaga dalam tidur (sleeping awake), itu termasuk dalam culture hypnosis. Ada yang belum pernah mengalaminya ?


  • Bagaimana cara melakukan malpratik pada suatu Negara? Jual seluruh asetnya, dan buka diri seluas -luasnya untuk dijajah. Terdengar familiar ?


  • Tahu apa itu mengerikan ? ketika kita berani melakukan sesuatu yang besar kemungkinannya untuk berhasil.


  • Seringkali seseorang tewas secara mengenaskan karena konsisten dalam rutinitasnya. Jadi apa salahnya inkonsisten ?

  • Tahukah apa kiranya cara terbaik untuk lari dari permasalahan kita ? Selesaikan permasalahan orang lain ! Entah itu patriot , entah itu pecundang..


  • Apa jadinya jika seekor ayam potong sadar bahwa dirinya terlahir untuk berakhir di penggorengan ? Ternyata keseimbangan tak butuh keadilan.


  • Bagaimana bisa seseorang tak pernah belajar dari kesalahan-nya? Karena mereka adalah seorang egomaniac, sosiopat dan tak bermartabat ! atau mereka hanya terjebak dalam eternal stupidity.


  • Bedeteung (kesadaran makna) kata bosan telah mengalami degenerasi. Karena sekarang orang tidak bosan pada sesuatu yang tidak imajinatif dan biasa saja. Atau ini tak lebih hanya sekedar degenerasi kinerja otak ?


  • Fanatisme dapat menyebabkan terinstitusi, kebutaan dan vandalism. Mungkin ini cukup relevan untuk dicantumkan pada bungkus rokok atau candu lain seperti agama, ideology , Branding dan lain sebagainya.


  • Secara de facto dan de jure sebuah bangsa dinyatakan merdeka, jika mereka telah mendeklarasikan kemerdekaannya dan mendapatkan pengakuan dari bangsa lain. Walaupun secara teknis bangsa itu masih dijajah disegala bidang.


  • Sudah terlalu banyak panti rehabilitasi untuk para pecandu pain killer. Mungkin panti rehabilitasi untuk para pecandu time killer adalah lahan bisinis baru yang menjanjikan.


  • Kapankah seorang manusia bisa benar – benar merasa puas ? saya sangsi itu terjadi kalaupun seisi jagat raya telah habis karena dikonsumsi. Apa itu kepuasan ?


  • Ingin tahu cara berhenti instant dalam mencapai sesuatu, maka banggalah ! Dan selamat karena telah mencapai garis finish libido imajinermu !


  • Kiranya apa prasyarat untuk menjadi seorang psikiater yang objektif ? Dalam urusan perasaan dan merasakan , Adakah yang lebih objektif dibandingkan seorang psychopath ?


  • Apa hal yang menjadi momok bagi setiap manusia ? merealisasikan mimpi. Itulah mengapa belakangan zombie meledak populasinya.


  • Bagaimana caranya agar seseorang mampu menghargai kehidupan sebagai suatu anugerah ? Dia harus mencoba bunuh diri !


  • Seseorang merasa biasa terhadap segala sesuatu yang biasanya ada. Seseorang baru merasa kehilangan saat tidak memiliki apa yang biasanya ada. Apa itu penyesalan ?


  • Ternyata karakter dan alasan pembenaran selalu berjalan sinergis.


  • Buat apa kita hidup ? Apa tujuan hidupmu ? Kenapa kita hidup ? Sebuah misteri kehidupan


Rabu, 06 Januari 2010

Nothing than the absurdity of God (^_^)

"Belajar menulis", gag semua yang lo baca ini bener ! ha..ha..ha

The gods had condemned Sisyphus to ceaselessly rolling a rock to the top of a mountain, whence the stone would fall back of its own weight. They had thought with some reason that there is no more dreadful punishment than futile and hopeless labor.
-Albert Camus : The Myth of Sisyphus


Sebuah harapan akan hari esok yang lebih baik. Harapan akan pencapaian tertinggi dalam kehidupan. Harapan akan datangnya pencerahan (aufklarung) . Harapan akan datangnya juru selamat bagi umat manusia. Harapan akan adanya keadilan sejati. Harapan akan datangnya sebuah hari pembalasan ( judgement day) . Harapan akan kebahagiaan sejati dalam kehidupan setelah mati (after life). Harapan untuk menemukan kebenaran absolute atas hakekat eksistensi manusia. Dan segala harapan akan sesuatu yang dijanjikan. Sampai kapankah umat manusia akan terus – menerus berharap? Bagaimana seandainya jika segala harapan adalah sesuatu yang tidak pernah ada (nothing)?

Sesuatu yang tanpa disadari telah menginstitusi umat manusia kedalam aktivitas rutin dalam mencapai dan memenuhi harapanya. Sebuah hegemoni aktivitas sosio-cultur masyarakat kontemporer di akhir era posmodern yang terproyeksikan dalam bentuk career atau segala aktivitas rutin yang membuat seseorang berkutat dalam involusi maupun stagnasi. Mungkin bentuk pola aktivitas ini hanyalah imbas dari superstruktur yang ada. Pola ini akan cenderung bersifat temporer dan berubah relative terhadap struktur dominan yang ada. Jika pola ini dipandang dari sebuah perspektif pada skala yang lebih besar, kita akan mendapati hal yang sama pula pada pola perkembangan arus sistematika zaman .

Kita bisa melihat penghujung dark age setelah munculnya seorang Descartes dengan rasional anthropomorfis - nya. Bagaimana zaman modern secara sosio - culture dimulai dari sebuah revolusi Industri di Inggris. Zaman posmodern dengan revolusi tekhnologi informasinya. Dan penghujung era posmodern akibat isu ekologi. Sebuah zaman yang memiliki katalisator sebagai identitasnya. Sebuah zaman yang berjalan lambat. Sebuah zaman yang berjalan sangat cepat. Sebuah zaman yang mengalami lompatan sejarah secara exponensialnya untuk menuju titik extrimnya. Sebuah zaman tanpa arah untuk selanjutnya turun drastis secara exponensial dari titik extrimnya. Sebuah kemajuan yang membawa akhir bagi zaman itu sendiri. Tidak hanya umat manusia, apakah sang zaman juga telah ter-institusi dan ter-alienasi?

Benarkah bahwa sejarah tak pernah berulang? Benarkah bahwa sejarahwan-lah yang telah mengulang-ulang sejarah? Bukankah ini yang dimaksud oleh albert camus sebagai moment of lucidity (momen kecerahan)? Ataukah hal ini yang di maksudkan oleh adagium Nietzsche sebagai perulangan abadi (die ewige Wiederkehr des Gleichen) ? Tapi yang jelas, manifestasi harapan berupa absurditas tak pernah berubah seiring dengan perubahan zaman. Dan perjalanan umat manusia dalam mengarungi aliran waktu tak sama ubahnya dengan yang dilakukan seorang sisifus terhadap hukuman yang diberikan oleh para dewa. Apakah benar asumsi para dewa bahwa kesia – siaan dan penyesalan tanpa akhir lah yang bakal dirasakan oleh sisifus?

Entah sudah tercapai atau tidak sebuah harapan; hingga pada suatu ketika, saat apa yang telah dilakukan seseorang disadari sebagai sebuah kesia-siaan dan kegagalan . Mereka seakan melihat kegelapan telah datang ke dunia untuk kembali memainkan peran sentralnya sebagai pembawa akhir atas segala sesuatu. Harapan telah menjadi sebuah absurditas absolute untuk selanjutnya dipersalahkan. Mereka yang tidak dapat menerima absurditas sebagai sebuah realita kehidupan akan melakukan tindakan berupa bunuh diri sebagai upaya penolakan atas absurditas dan kekecewaan akibat sebuah kegagalan dan ketersia-siaan. Padahal tindakan bunuh diri tidak lain dan tidak bukan hanyalah sebuah jalan pelarian para pengecut dari absurditas kehidupan serta semata hanyalah sebagai alasan pembenaran . Hal ini juga didapati sebagai salah satu implikasi dalam suatu tindakan bunuh diri.

Semakin tertekan seorang individu maka individu itu akan semakin kuat. Individu – individu yang kuat itu adalah invidu – individu yang dapat menerima segala bentuk absurditas sebagai bagian dari hakekat eksistensi kehidupan. Individu yang memandang betapa absuditas adalah sebuah nilai yang sangat berharga bagi kehidupan. Nilai yang membuat seorang individu menghargai kehidupan ( amorfati ) . Nilai yang membuat seorang invidu rela mengorbankan segala-galanya demi kehidupan individu - individu lain di masa mendatang. Nilai yang disadari ketika memandang sebuah moment akan divergensi di dalam eternal recurrent.

Hingga pada suatu ketika, sang sisifus berada di puncak gunung dan untuk selanjutnya mengamati batu besar yang di bawanya dengan penuh penderitaan dan ketersiksaan itu; menggelinding karena bebanya sendiri ke bawah. Dan ia menyadari bahwa aktivitasnya akan berlangsung secara kekal. Betapa serangkaian penderitaan, ketersiksaan, kekecewaan dan kegagalan yang telah menimpanya disikapinya secara dewasa; bagaimana hal itu menjadi sebuah tantangan untuk dihadapi . Betapa pandanganya telah membebaskan dirinya dari belenggu absurditas. Dengan memandang bahwa perjalanannya dalam menopang batu menuju puncak gunung adalah sebuah perjalanan yang kiranya cukup untuk mengisi hati. Mendapati absurditas sebagai sesuatu yang absolute dan riil, untuk selanjutnya memaafkan dan berdamai terhadap segala sesuatu atas dirinya. Kiranya hal ini adalah cukup untuk meruntuhkan dan menghancurkan kerangka dan fondasi sistem masyarakat modern yang berupa paradigma hidup instan dan effisien.

Ketidaksadaran dan penolakan terhadap absurditas yang salah satunya termanifestasi dalam bentuk harapan, telah menjelma sebagai alienasi dan telah menghegemoni umat manusia. Dan hal ini diperparah oleh para reduksialis dan para aktivis pergerakan yang hanya berlandaskan keberpihakan pada suatu kepentingan demi sebuah kekuasaan dengan sebuah harapan profetik akan sebuah tatanan yang sempurna dalam keteraturan yang meniadakan perbedaan . Mereka menabuh genderang perang terhadap ketidakjelasan (l’obscurité). Apakah ketidakjelasan adalah sesuatu yang perlu diperangi, dipertentangkan lantas dipersalahkan?

Sudah saatnya umat manusia memberontak terhadap segala keterikatan bawah sadar baik historis maupun metafisik untuk selanjutnya menerima dengan rela bahwa absurditas adalah " sinar gelap" yang membuat manusia senantiasa berjuang untuk menentukan sendiri kecerahan (la lucidité) atas dirinya sendiri yang berdasar pada keinginannya sendiri. Sehingga hal tersebut disadari sebagai sebuah insting untuk hidup (erros). Hal yang melahirkan sebuah semangat pengorbanan demi kelangsungan kehidupan - kehidupan lain di masa mendatang. Hal yang diawali dari sebuah cara pandang dan penyikapan terhadap keagungan akan perbedaan secara bebas. Hal yang tanpa diawali prameditasi tetapi berlandaskan sebuah “semangat penelaahan bebas” dengan dibawah kendali penuh asas kesadaran. Untuk selanjutnya menjadi manusia – manusia unggul ( ubermensch ). Karena telah menjadi manusia yang menemukan kesempurnaan lewat menyadari batasan maupun kelemahanya. Dan mereka dengan dewasa telah memaafkan dan jujur terhadap dirinya sendiri. Mereka lah orang -orang yang merasa mengemban sebuah tanggung jawab besar ketika mereka memiliki kebebasan dan kekuatan yang besar pula.

Betapapun itu, ketika seseorang dengan kesadaran penuh mau menerima, meng"iya"kan dan berani mengahadapi tantangan nyata sebuah absurditas serta senantiasa berjuang dengan semangat untuk melakukan yang terbaik adalah dirasa cukup. Sehingga membuat seseorang menjadi mencintai dan menghargai kehidupan (amorfati) Tak perlu lagi mempertentangkan keyakinan transendental, filsafat, sains, ideologi dan hal – hal lain untuk selanjutnya mencari –cari korespondensi maupun korelasi terhadap makna akan kehidupan. Mungkin, hal tersebut bisa dimulai dari belajar berkeinginan, belajar melihat dalam menyadari suatu perbedaan, serta belajar mempertanyakan segala sesuatu secara skeptis (kebenaran adalah tidak ada). Dan untuk selanjutnya diikuti dengan sebuah " semangat penelaahan bebas " dalam prosesnya. Bagaimana mitos dari seorang sisifus mampu memberikan ilham dan inspirasi umat manusia dalam memandang dan menyikapi realisme , eksistensi dari absurditas itu sendiri. Apakah hal ini yang dimaksudkan oleh Jean-Paul Sartre sebagai "Man is condemned to be free" ? Sehingga sisifus telah membawa para dewa yang menghukumnya kedalam belenggu absurditas. Tapi, apakah sisifus telah benar - benar menemukan kebahagiaan sejatinya?


Sebuah Subjektivitas penulis

We are given a choice,..
We are given the possibility,…
And it will be over and over again,…
We can't do nothing,..
Except only stepping,...
Or just tracing another left step,..
On the never ending desert,..

But this journey enough to fulfill our heart,..
Just accept this destination,…
Just do your best what you can do,..
Just for carrying to each other,..
Keep fight for your freedom,…
Use your freedom to protect,..
then let the life going to be ,…

Life is gambling
Life is mistake
Life is suffer
Life is absurd
My life mean nothing
But my life journey mean every things

Rabu, 09 Desember 2009

Nothing Than Heaven (^_^)

"Belajar menulis", gag semua yang lo baca ini bener ! ha..ha..ha

"In heaven, all the interesting people are missing."

-Friedrich Nietzsche : Anti Christ-


Sebuah dunia yang hanya berisikan matahari terbit. Sebuah dunia yang hanya bersikan hujan. Sebuah dunia yang hanya berisikan kesejukan. Sebuah dunia yang hanya berisikan segala keindahan fenomena alam. Ketika tidak ada satupun jeritan kesakitan. Ketika tidak ada satupun tangisan penderitaan. Ketika tidak ada yang dibunuh maupun yang membunuh. Dan ketika pertentangan benar salah dikembalikan kedalam ketiadaan. Ketika tidak ada hegemoni kekuasaan dalam bentuk Negara. Tidak ada peperangan. Tidak ada kelaparan. tidak ada segala bentuk penindasan. Tidak ada permusuhan. Tidak ada kontradiksi. Tidak ada agama. Yang ada hanyalah segala kenyamanan , keindahan dan kenikmatan. Serta keteraturan dan keselarasan yang tak bisa dideskripsikan dengan kata – kata. Yang terdengar hanyalah gelak tawa bahagia. Yang ada hanyalah segala kemudahan. Tidak ada satu hasratpun yang tak terpenuhi. Apakah ini yang dimaksud dengan sebuah tatanan yang sempurna?

Sebuah tatanan yang menjadi segala esensi perjuangan non kepentingan. Sebuah tatanan yang tak dihasilkan oleh serangkaian pertumpahan darah. Sebuah tatanan yang melahirkan banyak abstaksi pengetahuan. Tatanan yang membuat arus sistematika pemikiran senantiasa mengalir. Tatanan yang selalu memberikan mimpi dan harapan bagi setiap insan. Kiranya apa yang selalu mengisi hari – hari seluruh manusia yang ada pada dunia itu?Jika suatu ketika ada seseorang yang merasa bosan dengan rutinitas keteraturan pada dunia itu bertanya ,”Apakah hakikat tujuan hidupmu?”. Dan seseorang eksentrik yang lain menjawab, “Untuk senantiasa berusaha melepaskan diri dari segala kehampaan ini walaupun hal itu tak akan mungkin.”. Apakah kesempurnaan tatanan pada dunia itu masih terjaga? Bukankah hal tersebut juga ada pada dunia kita?

Seorang budak yang mendapatkan kemerdekaan-nya. Seorang pencari cinta yang menemukan cintanya. Seorang miskin yang mendapat kekayaan melimpah mendadak. Sebuah Ketakutan luar biasa yang menghasilkan keberanian luar biasa. Dan segala sesuatu yang telah menembus batasanya batasan. Dan kembali pada sebuah awal, sebuah awal yang pernah ada. Dan berjalan terus – menerus. Hingga saat seseorang menyerah pada sebuah keyakinan. Sebuah keyakinan Intuitif tanpa prameditasi. Intuisi yang berasal dari sebuah perbedaan yang disadari. Sebuah perbedaanlah yang melahirkan identitas. Sebuah perbedaanlah yang mampu mengakhiri kesempurnaan. Dan perbedaanlah yang menjadi sebuah kepastian di duniaku. AKU BERBEDA MAKA AKU ADA !

Sabtu, 28 November 2009

Nothing Than Absolute (^_^)

"Belajar menulis", gag semua yang lo baca ini bener ! ha..ha..ha

" The opposite of a correct statement is a false statement. But the opposite of a profound truth may well be another profound truth."

- Niels Bohr-



Sebuah pertanyaan tanpa sebuah jawaban. Bagaimana sebuah pertanyaan bisa menimbulkan berjuta jawaban dan begitu pula sebaliknya ? Dari manakah munculnya multi intrepretasi itu ? Apakah seluruh instrumen perspektif yang ada tak lebih hanyalah sebuah doktrin partikular ataupun hanya sebuah a priori ? Perlukah filologi itu? Perlukah hermeneutik itu? Apakah ada seseorang yang benar - benar mampu memahami sepenuhnya atas apa yang disampaikan orang lain melalui sebuah teks? Adakah sebuah makna absolute dari sebuah teks? Adakah sebuah kesalahan interpetasi itu?

Kesalahan yang melahirkan perubahan dan perbedaan dari segala yang dipertahankan dan diyakini. Berjuta manifestasi inspirasi tertuang pada seluruh teks yang pernah tercipta di dunia ini. Teks yang menuliskan nilai – nilai. Nilai - nilai yang ditulis dalam sebuah teks oleh para sejarahwan. Teks yang menuliskan sejarah. Sejarah yang memberikan identitas pada suatu peradaban. Sebuah Identitas awal peradaban yang lahir akibat perbedaan sejarah. Adakah sebuah teks sejarah yang benar – benar merupakan realitas objektif, yang lepas dari segala subjektivitas sang sejarahwan ? Atau mungkin sebuah teks sejarah yang bukan milik pemenang?

Seorang adikuasa yang dianggap putra tuhan. Seseorang yang mampu membalikan semua sejarah dan nilai. Orang - orang yang tertindas dan mencari sebuah alasan pembenaran maupun apologia atas segala penindasan yang menimpanya. Mereka juga mampu membalikan semua sejarah dan nilai. Nilai dan sejarah yang telah menginstitusi umat manusia. Perlukah membuang semua sejarah itu? Perlukah merevaluasi semua nilai itu? Sehingga lepaslah semua belenggu nilai dan sejarah. Jika ada sesuatu yang berawal tentunya juga ada akhir dari sesuatu tersebut. Adakah sebenarnya awal dan akhir itu sendiri? Ataukah segala yang ada tidak lebih hanyalah sebuah lingkaran yang mengitari dirinya sendiri (eternality reccurent). Tanpa titik nol tapi saling meniadakan. Mungkinkah ada sebuah moral tanpa amoral ? Mungkinkah ada absurditas tanpa realitas? Mungkinkah sebuah keabsolutan tanpa ketiadaan ?

Seperti sebuah tesis dan antithesis. Saling meniadakan untuk saling melengkapi. Adakah sebenarnya sebuah sintesis itu? Salah satu manifestasi inspirasi keinginanku, manusia akan menemukan kembali kesempurnaannya setelah manusia tersebut telah menyadari batasanya sendiri. Batasan yang menegaskan kekurangan dan kelemahannya. Sesuatu yang membuat manusia memasrahkan diri pada suatu keyakinan akan sesuatu yang ia tidak yakini maupun sesuatu yang ia benci sekalipun. Suatu keyakinan yang diyakininya akan membebaskan dirinya dari segala belenggu yang ada. Belenggu dari segala kesempurnaan itu sendiri. Sebuah proses pelampauan untuk menjadi manusia yang rela mengorbankan segala – galanya dimasa kini demi masa mendatang. Sebuah tahap pencapaian akan pencarian hakekat eksistensi manusia.

Senin, 23 November 2009

Topeng Dan Berhala (^_^)

"Belajar menulis", gag semua yang lo baca ini bener ! ha..ha..ha

" Jika seseorang memiliki karakter, berarti dia juga memiliki pengalaman yang tipikalnya terjadi berulang kali. "



" Kau adalah pengamat kehidupan yang buruk jika kau belum melihat tangan - tangan kebaikan yang membunuh"
-Friedrich Nietzsche : Beyond Good and Evil-

Hanya memperhatikan seseorang tanpa diketahui seorangpun. Melihat dari sebuah sudut pandang tak biasa. Mengamati segala kebiasan – kebiasaannya. Memperhatikan hingga seakan – akan mampu merasakan detak jantung dan setiap hela nafas yang ada. Seorang pembunuh berantai yang melakukan pencarian di setiap pembunuhan – pembunuhannya. Seorang pengagum rahasia yang mencitai seseorang tanpa ada keberanian untuk menyatakan cintanya. Seorang adikuasa yang gila kejayaan dan tahta. Seorang pejuang yang senantiasa memperjuangkan bangsanya yang tertindas. Seorang seniman yang menentang mainstream yang ada. Seorang aktor / aktris yang memainkan peranya. Adakah dari mereka yang tidak memiliki topeng? Apakah semua topeng – topeng yang tercipta di dunia ini telah dipilih menjadi jalan pelarian seseorang? Ataukah topeng itulah yang menjadi identitas orang tersebut?

Segala kekecewaan dan kegagalan yang tak berujung, inikah yang mengkibatkan terciptanya milyaran topeng di dunia ini? Atau hal ini hanya akibat dari ketamakan dan kerakusan umat manusia? Topeng yang haus darah dan mampu memberikan kekuasaan dan kejayaan. Topeng yang mampu memenuhi hasrat existensial seseorang. Topeng yang mampu memberikan alasan pembenaran. Siapakah manusia pertama yang kehilangan jati dirinya dan mengenakan sebuah topeng untuk pertama kalinya di dunia ini? Tanpa di sadari, manusia itu telah menciptakan sebuah berhala baru. Berhala yang di dalamnya terdapat peledak alam semesta. Adakah seorang anak manusia yang berani menghancurkan berhala ini? Atau ini hanyalah kutukan yang di bawa oleh umat manusia.

Sebenarnya dari manakah datangnya semua pemikiran ini? Benar – benar dari diriku sejati kah? Atau berasal dari topengku? Sebuah lingkaran absurditas absolute yang mengitari dirinya sendiri. Sesuatu di luar batas ruang dan waktu, hanya pengamat dari sanalah yang mampu memberikan jawaban secara rasional objektif. Sebuah paradigma di dalam pikiran yang di luar pikiran. Siapa kiranya yang diberi kesempatan untuk menembus batasanya batasan. Ia pasti mampu menjawabnya. Dan musnahlah Alam Semesta beserta semua berhala dan topeng – topeng itu.

Mother tongue

Share